Archive for December, 2007

“NATALAN” di DUFAN

Friday, December 28th, 2007

Never forget that momment^^
N i’ll be missing "that" guy…
See U later, honey…

MY BACKGROUND FRIENDSTER

Wednesday, December 12th, 2007

Asiiiiiiikkk…. Akhirnya saya mengganti bekgron fs juga!! Dari kemaren2 udah pengen ganti, tapi ga bisa2 dan ga rela2 karna blm jelas wolpepernya apah dan yang mana. Sekarang udah saya ganti, dan saya rela mengganti wolpeper foto saya sendiri dengan Monkey Majik! Cihuyyy!! Saya benarbenar suka mereka!!

Flashdisk SONY MicroVault

Sunday, December 9th, 2007

Ga heran kan klo saya benerbener kepengen banget punya plesdis inih?? Bentuknya ygang kecil tipis kayak microchip ini bikin saya gatel pengen matahinnya [loh?]. Ga lah.. Saya gatel banget pengen punya sendiri. Pasalnya, ternyata plesdis inih susah dicari. Waktu itu saya ngeliat ada yang pake, coeok, wana plesdisnya oren, yagn ternyata ituh temennya temen saya. Jadi, bisa disimpulkan kalo plesdis ini memang jarang yang punya.

Di tengah jaman sekarang yang ratarata plesdis pada miring harganya, plesdis ini bisa dibilang jual mahal. Yg pny cowok tadi itu aja harganya 89k untuk yg 256mb. Wauw!! Emang apa kehebatannya selain bentuknya yang beda dan berasal dari merk ternama?

Yup! Ternyata plesdis ini punya kelebihan sendiri [yang tadinya saya ga tau]. Setiap data yagn masuk ke plesdis ini dengan sendirinya akan terkompres [setelah kompresan otomatisnya diaktifin]. Ya, data yang tadinya 240kb dikompres jadi 50kb! Bergembiralah saya, karna bisa menyimpan file-file pelem-pelem cihuy!

Sebelumnya, saya berterimakasih [ajkkh yah mas...] karna pada akhirnya saya sudah memiliki plesdis inih! Huhu.. Dan tahu saya dapet di mana? Ya, karna di Bandung ga ada, jadi ini dapetnya di Jakarta. Agak lumayan jauh juga yah aklo mau nyervis??

Semua bergantung pada diri kita masingmasing, mau memilih plesdis 1GB berharga miring namun berkualitas tidak jelas, atau plesdis "baik sekali" yang harganya juga "tidak jelas" mahalnya. Ahahahaha…

*knapa ya, setiap kali ngisi blog belakangannya gw selalu ktawa? ANEH….

Trafiking pada “Mimi lan Mintuna” Remy Sylado

Friday, December 7th, 2007

Saya bingung harus mulai dari mana. Buku ini [begitu] mengejutkan saya. Pertama, saya tertarik dengan judulnya. Mimi lan Mintuna. Tentu terdengar asing bagi saya, dan ironisnya, saya bersuku Jawa, "mimi lan mintuna" merupakan bahasa Jawa. Ke mana saja saya selama ini? Itu memang patut dipertanyakan, karena saya hidup berpindah-pindah mengikuti ke mana Papa saya bertugas.
Lalu kedua, saya dikejutkan dengan katakata "trafiking" pada covernya. Wah, hebat! Bisa jadi ini merupakan cerminan yang terjadi pada bangsa kita saat ini. Bisnis seperti ini sering kita dengar, namun kebanyakan orang awam seperti saya tidak menegetahuinya, bahkan tidak dapat "merabanya" dari dekat sekalipun.

Secara keseluruhan, buku ini mengisahkan Indayati, yang oleh suaminya disia-siakan, minggat karena lelah dengan ulah suaminya yang setiap hari mabuk dan memukulinya tanpa sadar. Ia pergi mengikuti pamannya dan mendapatkan pekerjaan di Manado.

Wajah Indayati sangat Indonesia. Karena itulah ia dilirik perusahaan yang sedang mencari bakat untuk dikirim dan bermain film di luar negeri. Indayati "terpaksa" ikut ajang tersebut karena terjebak. Namun akhirnya ia malah diperlakukan tidak sewajarnya di sana dan dimanfaatkan sepuasnya untuk nafsu-nafsu berahi bapakbapak tua kaya.

Suaminya bertobat ketika ia meraa berdosa setelah ditembak warga yang sangat membencinya. Ia bergegas mencari Indayati bersama bibinya Indayati yang berada di Menado. Sesampainya di tempat Indayati sana,ia malah mati ertembak ketika akan menyelamatkan istri tercintanya itu.

Ya, Mimi lan Mintuna. Tetap rukun selamanya meski banyak perbedaan, harus saling menerima perbedaan yang ada.

Novel ini seharusnya bisa memancing airmata saya, tapi sayang Pak Remy belum berhasil. Ketika Indayati tidak sengaja bertemu dengan suaminya di tengah jalan, lalu mereke bertemu pada akhirnya, dan saling memeinta maag, eharusnya itu menjadi momen paling "atas" untuk membuat saya menangis. Tapi sekali lagi, sayang. Begitu pula pada adegan Petrus [suami Indayati] tertembak ketika akan melindunginya. Lagilagi saya tidak bisa mengeluarkan airmata. Padahal cukup mengharukan, memang.

Terdapat beberapa "bantuan" polisi pada cerita ini. Saya seperti menyaksikan sebuah berita kriminal bersambung tiap hari. Hhh.. Melelahkan otak saya saja. Belum lagi ditambah dengan beberapa bahasa Tagalog di dalam percakapannya. Memang terdapat terjemahan pada catatankakinya, tapi itu justru menyusahkan mata saya untuk menyesuaikannya.

Tetap pada akhirnya, saya kurang suka dengan isinya. Seperti meremehkan dan merendahkan harkat perempuan Indonesia, terutama, dan seluruh umat perempuan di dunia. Saya tidak menyangka, kalau benarbenar terjadi di Indonesia, laknat benar yang ada!

Semua orang bebas berpendapat, bukan? Silakan Anda berpendapat, saya tidak menolak. Karena memang bukan saya penulis buku ini. ^^